Yus Dt. Parpatih, Penulis Sutan Rajo Angek, Wafat di Usia 87 Tahun di Ranah Minang

Dalam suasana Idul Fitri yang penuh suka cita, Ranah Minang dikejutkan dengan berita duka. Yus Dt. Parpatih, seorang tokoh adat terkemuka dari Sungai Batang, Kabupaten Agam, telah menghembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu, 28 Maret, pukul 16.30 WIB. Kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam, terutama bagi mereka yang mengenang karya-karyanya, termasuk salah satu yang paling terkenal, Sutan Rajo Angek, yang menggambarkan kehadiran sosoknya yang bermanfaat di tengah masyarakat.
Karya Fenomenal yang Meninggalkan Jejak
Yus Dt. Parpatih dikenal luas berkat karya agungnya, Pitaruah Ayah, yang berasal dari Rumah Tuo Suku Sikumbang, Jorong Nagari, di Kenagarian Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya. Karya ini bukan sekadar sebuah cerita; ia merupakan cerminan dari kehidupan dan nilai-nilai adat Minangkabau yang kaya. Melalui karyanya, Yus Dt. Parpatih berhasil menyampaikan pelajaran berharga yang berlaku hingga kini.
Pengajaran Melalui Karya
Selama hidupnya, Yus Dt. Parpatih menyampaikan nasihat dan pengajaran mengenai adat Minangkabau dengan cara yang khas. Dengan suara yang melengking dan bahasa yang lugas, ia berhasil menjangkau hati pendengar melalui berbagai bentuk seni, termasuk Pepataih Petitih, gurindam, serta drama yang menyoroti tata krama budaya Minang. Karya-karyanya telah diabadikan dalam berbagai format, mulai dari kaset hingga Video Compact Disc, dan kini banyak diakses melalui platform YouTube.
Membangun Kesadaran Adat di Kalangan Generasi Muda
Yus Dt. Parpatih tak hanya dikenal sebagai penulis, tetapi juga sebagai penggerak diskusi mengenai adat Minangkabau. Ia sering diundang sebagai narasumber dalam berbagai seminar dan diskusi untuk membahas isu-isu penting tentang adat, mulai dari perkawinan hingga harta pusaka. Pendekatannya yang ramah dan komunikatif membuatnya menjadi sosok yang mudah diakses oleh generasi muda, yang sering kali kurang memahami nilai-nilai adat yang telah ada sejak lama.
Peran dalam Masyarakat
Melalui partisipasinya dalam berbagai kegiatan, Yus Dt. Parpatih berupaya menjembatani kesenjangan antara generasi tua dan muda. Beberapa isu yang sering dibahas dalam diskusi antara lain:
- Perkawinan dalam konteks adat Minangkabau
- Pemahaman tentang harta pusaka dan warisan
- Hubungan antar kerabat dalam masyarakat Minang
- Pengaruh globalisasi terhadap adat lokal
- Peran pemuda dalam menjaga tradisi
Jejak Sejarah dan Awal Karier
Data dari berbagai sumber menyebutkan bahwa Yus Dt. Parpatih lahir di Sungai Batang pada 7 April 1939. Sejak dini, ia menunjukkan minat yang besar terhadap nilai-nilai adat, yang mendorongnya untuk aktif dalam menyebarluaskan pengetahuan tersebut kepada generasi muda. Melalui grup Balerong, ia mulai memperkenalkan isu-isu adat dalam bentuk drama yang menyentuh emosi dan memberikan pencerahan yang mendalam.
Karya yang Menggugah Emosi
Drama-drama yang ditulis dan dipentaskan oleh Yus Dt. Parpatih berhasil menguras emosi pendengar. Setiap kisah yang disampaikan tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pemahaman baru tentang adat istiadat yang ada. Dengan keahliannya, ia mengajak masyarakat untuk merenungkan dan memahami betapa pentingnya menjaga warisan budaya yang telah ada.
Pewarisan Nilai-Nilai Adat untuk Generasi Z
Saat ini, warisan yang ditinggalkan oleh Yus Dt. Parpatih menjadi semakin relevan, terutama bagi generasi Z yang menghadapi tantangan baru di era digital. Karya-karyanya bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi pengingat dan pembelajaran tentang adat. Melalui karyanya, ia berharap agar generasi muda dapat memahami dan menghargai budaya mereka sendiri.
Kepedulian Terhadap Budaya
Yus Dt. Parpatih adalah contoh nyata dari seorang budayawan yang tidak hanya mencintai budaya, tetapi juga memperjuangkannya. Dengan dedikasinya, ia telah berhasil menanamkan rasa cinta terhadap budaya Minangkabau di hati banyak orang. Meskipun ia telah tiada, semangatnya akan terus hidup melalui karya-karya yang ditinggalkan.
Selamat jalan, Angku Datuak. Karya dan dedikasi Anda akan selalu dikenang sebagai sumber inspirasi dan pembelajaran bagi generasi mendatang. Moentjak!


